Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Jumat, 03 Januari 2014

Mata (-mata)

"Mengapa tidak bertemu saja?" tanya Galang pada sebuah pesan singkat.

Tidak ku-reply. Aku sedang asyik mendengarkan lagu Nidji dari headset stereoku. Headset yang begitu berguna jika aku merasa enek dengan ocehan tanteku yang sering kali lupa berhenti.

Andai matamu melihat akuu..terungkap semua isi hatiku...

Aku tidak ingin bertemu dengan matamu, Galang. Bakat artisku lenyap jika menatapnya.
Bola hitam yang tegas, kelopak yang sendu, celak alami yang tak perlu lagi ditebalkan kecuali sedikit, semuanya. SE to the MU to the A to the NYA. Semua, Galang.
Semuanya memaksaku untuk menjadi orang yang paling jujur. Dan sialnya, jika aku bertemu dengannya (matamu itu) aku tidak bisa berpaling seenaknya. Ada kutub positif pada matamu yang bertemu dengan kutub negatif pada diriku. Disamping, mata itu selalu menjadi pemandangan terindah bagiku. Menentramkan...

Tapi tahukah, Galang...
Kadangkala kejujuran tidak diperlukan. Maksudku, kau tak perlu mendengarnya langsung dariku. Kau hanya perlu membaca tanda-tanda, bermain dengan intuisi, menerka, menebak, tapi berhati-hatilah dengan prasangka.Got it, Dude?!

Sudah ya. Aku tidak bisa bertemu denganmu. Tidak saat ini. Kecuali, kau mungkin mau menggunakan kaca mata hitam.

Kamis, 02 Januari 2014

Your Autumn

Aku masih ingat mimpi kecilmu. Mimpi yang sering kali membuat ibuku dan mamamu marah-marah. Karena kita dengan sengaja membiarkan dedaunan pada pohon-pohon besar diantara rumah kita berjatuhan. Mengotori halaman rumahku dan rumahmu.
Kau ingin pergi ke negara dengan autumn yang indah sekedar untuk menikmatinya. Karena di Indonesia, autumn (jika masih bisa dikatakan autumn) berbeda. Hanya sekedar keadaan ketika angin kencang bertiup dan daun pada pepohonan melepaskan pegangannya. Men-daadaa pada pohon. Warnanya tetap suram, tidak seindah di negara lain yang warna daunnya lebih hidup, kuning, orange, ataupun coklat.
"Entahlah Galang, tapi rasanya daun merasa bosan berada di atas pohon." Katamu.
 Ah kau sotoy, seperti biasa.
“Bagaimana kau tahu mereka merasa bosan? Mereka mengatakan sesuatu kepadamu?”
Kau memainkan bola matamu, menariknya ke atas lalu menghempaskan nafasmu.
“Apa kau gila? Mana mungkin daun bisa berbicara?” waw, tumben kali ini kau waras. “Kita hanya disuruh membaca, Galang. Membaca tanda-tandaNya. Pada pergantian malam dan siang, juga mungkin pada daun-Nya, dan semua yang Dia ciptakan. Kita tidak perlu menunggu mereka berbicara dan menyampaikan kabar-kabar.”
Aku salah. Kurasa kau tidak benar-benar waras.
 Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Kau aneh, tapi aku menikmatinya.
"Jika daun berpisah dari pohon, dan berayun menuju tanah, bukankah ia mati?" Aku mengambil satu daun yang habis bercumbu dengan tanah. Memain-mainkannya ditanganku.
"Kau benar. Tapi terkadang, kita hanya mau tahu apa yang kita inginkan. Walau nyawa adalah taruhannya. Tidakkah kau lihat bagaimana ia berduyun menuju tanah? Ia menari, Galang. perlahan, melambai, bergerak kesana kemari. Jika ia seorang wanita, pastilah ia sedang mengibas-ibaskan gaunnya yang tidak lagi berwarna hijau. Tidak, Ia sama sekali tidak nampak sedih. Ia bahagia, walaupun akhirnya harus mati. Tapi ia mati dalam kepuasaan, ia mati setelah tahu apa yang benar-benar ia inginkan.”
Aku menatapmu lekat. Tapi kau tak membalas tatapanku. Matamu jauh berkelana. Entah kemana, entah dimana.
“Tapi bukankah apa yang kita inginkan belum tentu menjadi yang kita butuhkan?” Aku mencoba mengembalikan kesadaranmu. Sebelum kau makin meracaukan hal yang aneh-aneh. Tapi sumpah demi apapun, aku menikmatinya.
“Kau benar, sangat benar. Dan ia sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Ia menyedekahkan dirinya untuk kehidupan makhluk lain, memberi nafas, menyejukkan. Seperti yang diperintahkan Tuhannya. Dan autumn, autumn adalah bulan “me time” nya, bulannya, kemenangannya. Ah, entah dengan bagaimana lagi harus ku gambarkan perasaannya, Galang.”
Aku diam. Tapi tidak dengan otakku, ia mencerna semua perasaanmu. Ya aku tahu, yang kau ungkapkan itu adalah perasaanmu. Bukan perasaan si daun. Alamak, mana mungkin daun punya perasaan. Dasar perempuan aneh.
Tapi sekali lagi, aku menikmatinya.
Matamu berkelana lagi. Kali ini seluruh jiwamu dibawa serta sepertinya.
aha! Aku tahu bagaimana cara mengembalikan jiwamu.
Kupanjati pohon yang berdiri tegar dibelakang kita. Lalu kuinjak-injak ranting yang tepat berada di atas kepalamu. Daunnya berjatuhan. Daun dari ranting lain juga ikut berjatuhan. Satunya mendarat mulus dipangkuanmu dan menyentuh punggung telapak tanganmu.
Kau tersadar. Matamu tak lagi berkelana. Jiwamu kembali datang. Kau menatap ke atas, ke arahku. Lalu senyuman itu, senyuman yang selalu mencipta gemuruh hebat di dadaku. Aku balas tersenyum padamu, tipis saja.
“Kau tak perlu berterima kasih. Nikmatilah autumn-mu.”
Lalu sebelah mataku mengerlip.
Kaupun mulai bergerak, menarikan tarian anehmu.
Dan aku, aku selalu setia menikmatinya.
“Galaaaaaang…. Nyampah lagi yah?” Oh my god, my mom. Itu ibuku.
Kuhentikan menginjaki ranting pohon. Tarianmu pun diam. Sambil menutup mulut dengan kedua tanganmu, kau berbalik ke arahku, dan aku berbalik kearahmu. Kita sama-sama melongo.
“Maap tanteeee. Iya nanti kita bersihkan kok. Tenang aja.” Sahutmu kearah rumahku. Untung mamamu sedang tidak dirumah. Jika ia, maka kita akan menikmati suara duet ibuku-mamamu hari ini.
Dan aku tahu ending dari cerita ini: sepanjang sore kita habiskan dengan membereskan sampah-sampah dari autumn-mu itu.
Tapi sudahlah, toh aku selalu bisa menikmati apapun itu yang kau ciptakan.


Rabu, 01 Januari 2014

2014 katanya

Aku tidak melihatmu semalam. Apa kau merayakan malam pergantian tahun? Dimana?
Message send.
Aku merayakan malam setiap hari, Galang. Begitupun malam tadi.
Send.
Lalu, kau merayakannya dimana? Pelit sekali tidak mengajakku!
Send.
10 menit, tidak ada balasan.
Ah perempuan ini, selalu saja menggantung pertanyaanku.
*****
Apa kau hanya merayakan satu malam saja setiap tahunnya, Galang? Aku merayakan malam hampir tiap malam. Dimana? Tentu dimana saja aku sedang berada. Bisa di rumahku, di rumah nenek, di jalan, dimanapun itu. Tidak dengan riuh, kembang api, dan segala yang menyala-nyala. Kau tahu kan aku tidak suka menjadi manusia kebanyakan? Aku merayakan malam dengan sunyi karena itu yang diminta oleh langit malam. Kami berbincang dengan damai. Aku selalu mengiriminya surat-surat yang kuterbangkan dengan balon-balon gas hasil ‘rampasan perangku’ dari adikku. Karena ia , Si Langit Malam, tak punya handphone untuk kukirimi pesan-pesan singkat. Ia juga tak bisa turun kesini.
Kami berbincang apa saja. Kutanyakan kabarnya, kesehatannya, dan segala ke-kepo-an lainnya. SETIAP MALAM, tidak hanya malam tadi.
Dan dia membalasnya (do you believe that?). Tidak akan kukatakan bagaimana cara langit malam membalas pertanyaan-pertanyaanku karena ini rahasia kami berdua (sesekali aku butuh merahasiakan suatu hal darimu).
Tapi aku akan membocorkan suatu rahasia kepadamu. Pssttt… ini rahasianya si langit malam. Aku sudah meminta izin kepadanya dan dia membolehkan. Karena, katanya, kau adalah teman terbaikku.
Tahukah Galang, semalam, langlam (langit malam) curhat kepadaku. Katanya, sekali dalam setahun negaranya diserang teroris.  Ada bom dimana-mana. Duarrr duarrrr duuuarrrrr ledakan itu seperti berasal dari bawah tanahnya. Negaranya tak lagi sepi seperti yang ditakdirkan Tuhannya. Padahal, tugasnya adalah menyediakan ketentraman dan rasa tenang dengan warnanya yang hitam dan nuansanya yang sunyi. Tapi satu malam dalam setahun itu adalah mimpi buruk baginya. Ia tidak bisa menjalankan tugas yang diberikan Tuhan kepadanya. Ia mencoba minta bantuan kepada Negara Hujan, tapi sepertinya teroris-teroris itu adalah pawang hujan yang ulung. Hingga hujan pun tertahan di malam itu. Entah, padahal hari-hari sebelumnya hujan begitu derasnya meluncur.
Bintang juga kehilangan romantismenya. Kerlap-kerlipnya tak langit banyak dihitung orang-orang. Mereka terdengar menghitung yang lain. Hitungan mundur, 10 hingga 1.
Dan bulan, entah dimana ia bersembunyi. Hilalnya pun tak nampak. Harusnya orang-orang memperdebatkannya. Menegaskan bahwa ini belumlah menjadi awal bulan baru.
Langit malam bersedih, Galang. Sayang ia tak punya akun facebook, twitter, path, dan segala lainnya untuk bisa berkisah. Kitalah yang perlu sedikit meluangkan waktu untuk memahaminya.
Dan tahukah Galang, kapan malam itu?
Binggo, kau benar! Semalam, saat kau dan kawan-kawanmu tengah melempar sampah-sampah berwarna-warni itu ke negaranya. Sejak kapan kau-yang-anak-manis punya niatan menjadi teroris?
Galang, jika kau punya waktu sebentaaaar saja, cobalah sapa langit malam dalam sunyi. Malam apa saja, senin, selasa, rabu, kamis, dan seterusnya tak jadi soal. Kau tak perlu mengkhususkan malam-malam tertentu untuk menghidupkannya (apalagi jika kau hanya ikut-ikutan, Anak Manis ;)). Kau hanya perlu menyapanya tanpa mengusik kewajiban dan kesenangannya. Dan sungguh, dia benar-benar hidup.
Send?
Ini terlalu panjang untuk menjadi sebuah pesan singkat. Akan kusalin ke kertas selembar, kulipat meyerupai pesawat-pesawatan, dan kuterbangkan ke rumah Galang. Siapa suruh menjadi tetanggaku. Kutebak, dia pasti tengah mengeluh karena pesannya yang belum kubalas. Haha aku selalu punya defenisi kebahagiaan tersendiri jika membuatnya menunggu.
Maaf slow respond. Keluarlah ke teras. 
Send.