"Mengapa tidak bertemu saja?" tanya Galang pada sebuah pesan singkat.
Tidak ku-reply. Aku sedang asyik mendengarkan lagu Nidji dari headset stereoku. Headset yang begitu berguna jika aku merasa enek dengan ocehan tanteku yang sering kali lupa berhenti.
Andai matamu melihat akuu..terungkap semua isi hatiku...
Aku tidak ingin bertemu dengan matamu, Galang. Bakat artisku lenyap jika menatapnya.
Bola hitam yang tegas, kelopak yang sendu, celak alami yang tak perlu lagi ditebalkan kecuali sedikit, semuanya. SE to the MU to the A to the NYA. Semua, Galang.
Semuanya memaksaku untuk menjadi orang yang paling jujur. Dan sialnya, jika aku bertemu dengannya (matamu itu) aku tidak bisa berpaling seenaknya. Ada kutub positif pada matamu yang bertemu dengan kutub negatif pada diriku. Disamping, mata itu selalu menjadi pemandangan terindah bagiku. Menentramkan...
Tapi tahukah, Galang...
Kadangkala kejujuran tidak diperlukan. Maksudku, kau tak perlu mendengarnya langsung dariku. Kau hanya perlu membaca tanda-tanda, bermain dengan intuisi, menerka, menebak, tapi berhati-hatilah dengan prasangka.Got it, Dude?!
Sudah ya. Aku tidak bisa bertemu denganmu. Tidak saat ini. Kecuali, kau mungkin mau menggunakan kaca mata hitam.
Aku masih ingat mimpi kecilmu. Mimpi yang sering kali
membuat ibuku dan mamamu marah-marah. Karena kita dengan sengaja membiarkan
dedaunan pada pohon-pohon besar diantara rumah kita berjatuhan. Mengotori halaman
rumahku dan rumahmu.
Kau ingin pergi ke negara dengan autumn yang indah sekedar
untuk menikmatinya. Karena di Indonesia, autumn (jika masih bisa dikatakan
autumn) berbeda. Hanya sekedar keadaan ketika angin kencang bertiup dan daun
pada pepohonan melepaskan pegangannya. Men-daadaa pada pohon. Warnanya tetap
suram, tidak seindah di negara lain yang warna daunnya lebih hidup, kuning, orange,
ataupun coklat.
"Entahlah Galang, tapi rasanya daun merasa bosan berada di
atas pohon." Katamu.
Ah kau sotoy, seperti biasa.
“Bagaimana kau tahu mereka merasa bosan? Mereka mengatakan
sesuatu kepadamu?”
Kau memainkan bola matamu, menariknya ke atas lalu
menghempaskan nafasmu.
“Apa kau gila? Mana mungkin daun bisa berbicara?” waw, tumben
kali ini kau waras. “Kita hanya disuruh membaca, Galang. Membaca
tanda-tandaNya. Pada pergantian malam dan siang, juga mungkin pada daun-Nya,
dan semua yang Dia ciptakan. Kita tidak perlu menunggu mereka berbicara dan
menyampaikan kabar-kabar.”
Aku salah. Kurasa kau tidak benar-benar waras.
Aku tidak mengerti
dengan jalan pikiranmu. Kau aneh, tapi aku menikmatinya.
"Jika daun berpisah dari pohon, dan berayun menuju
tanah, bukankah ia mati?" Aku mengambil satu daun yang habis bercumbu
dengan tanah. Memain-mainkannya ditanganku.
"Kau benar. Tapi terkadang, kita hanya mau tahu apa
yang kita inginkan. Walau nyawa adalah taruhannya. Tidakkah kau lihat bagaimana
ia berduyun menuju tanah? Ia menari, Galang. perlahan, melambai, bergerak
kesana kemari. Jika ia seorang wanita, pastilah ia sedang mengibas-ibaskan gaunnya
yang tidak lagi berwarna hijau. Tidak, Ia sama sekali tidak nampak sedih. Ia
bahagia, walaupun akhirnya harus mati. Tapi ia mati dalam kepuasaan, ia mati
setelah tahu apa yang benar-benar ia inginkan.”
Aku menatapmu lekat. Tapi kau tak membalas tatapanku. Matamu
jauh berkelana. Entah kemana, entah dimana.
“Tapi bukankah apa yang kita inginkan belum tentu menjadi
yang kita butuhkan?” Aku mencoba mengembalikan kesadaranmu. Sebelum kau makin
meracaukan hal yang aneh-aneh. Tapi sumpah demi apapun, aku menikmatinya.
“Kau benar, sangat benar. Dan ia sudah melaksanakan tugasnya
dengan baik. Ia menyedekahkan dirinya untuk kehidupan makhluk lain, memberi
nafas, menyejukkan. Seperti yang diperintahkan Tuhannya. Dan autumn, autumn
adalah bulan “me time” nya, bulannya, kemenangannya. Ah, entah dengan bagaimana
lagi harus ku gambarkan perasaannya, Galang.”
Aku diam. Tapi tidak dengan otakku, ia mencerna semua
perasaanmu. Ya aku tahu, yang kau ungkapkan itu adalah perasaanmu. Bukan
perasaan si daun. Alamak, mana mungkin daun punya perasaan. Dasar perempuan
aneh.
Tapi sekali lagi, aku menikmatinya.
Matamu berkelana lagi. Kali ini seluruh jiwamu dibawa serta
sepertinya.
aha! Aku tahu bagaimana cara mengembalikan jiwamu.
Kupanjati pohon yang berdiri tegar dibelakang kita. Lalu
kuinjak-injak ranting yang tepat berada di atas kepalamu. Daunnya berjatuhan.
Daun dari ranting lain juga ikut berjatuhan. Satunya mendarat mulus
dipangkuanmu dan menyentuh punggung telapak tanganmu.
Kau tersadar. Matamu tak lagi berkelana. Jiwamu kembali
datang. Kau menatap ke atas, ke arahku. Lalu senyuman itu, senyuman yang selalu
mencipta gemuruh hebat di dadaku. Aku balas tersenyum padamu, tipis saja.
“Kau tak perlu berterima kasih. Nikmatilah autumn-mu.”
Lalu sebelah mataku mengerlip.
Kaupun mulai bergerak, menarikan tarian
anehmu.
Dan aku, aku selalu setia menikmatinya.
“Galaaaaaang…. Nyampah lagi yah?” Oh my god, my mom. Itu
ibuku.
Kuhentikan menginjaki ranting pohon. Tarianmu pun diam.
Sambil menutup mulut dengan kedua tanganmu, kau berbalik ke arahku, dan aku
berbalik kearahmu. Kita sama-sama melongo.
“Maap tanteeee. Iya nanti kita bersihkan kok. Tenang aja.”
Sahutmu kearah rumahku. Untung mamamu sedang tidak dirumah. Jika ia, maka kita
akan menikmati suara duet ibuku-mamamu hari ini.
Dan aku tahu ending dari cerita ini: sepanjang sore kita habiskan dengan membereskan
sampah-sampah dari autumn-mu itu.
Tapi sudahlah, toh aku selalu bisa menikmati apapun itu yang kau ciptakan.
Aku tidak melihatmu semalam. Apa kau merayakan malam pergantian tahun?
Dimana?
Message send.
Aku merayakan malam setiap hari, Galang. Begitupun malam tadi.
Send.
Lalu, kau merayakannya dimana? Pelit sekali tidak mengajakku!
Send.
10 menit, tidak ada balasan.
Ah perempuan ini, selalu saja
menggantung pertanyaanku.
*****
Apa kau hanya merayakan satu malam saja setiap tahunnya, Galang? Aku
merayakan malam hampir tiap malam. Dimana? Tentu dimana saja aku sedang berada.
Bisa di rumahku, di rumah nenek, di jalan, dimanapun itu. Tidak dengan riuh, kembang api,
dan segala yang menyala-nyala. Kau tahu kan aku tidak suka menjadi manusia
kebanyakan? Aku merayakan malam dengan sunyi karena itu yang diminta oleh
langit malam. Kami berbincang dengan damai. Aku selalu mengiriminya surat-surat
yang kuterbangkan dengan balon-balon gas hasil ‘rampasan perangku’ dari adikku.
Karena ia , Si Langit Malam, tak punya handphone untuk kukirimi pesan-pesan singkat. Ia juga tak
bisa turun kesini.
Kami berbincang apa saja. Kutanyakan kabarnya, kesehatannya, dan
segala ke-kepo-an lainnya. SETIAP MALAM, tidak hanya malam tadi.
Dan dia membalasnya (do you believe that?). Tidak akan kukatakan
bagaimana cara langit malam membalas pertanyaan-pertanyaanku karena ini rahasia
kami berdua (sesekali aku butuh merahasiakan suatu hal darimu).
Tapi aku akan membocorkan suatu rahasia kepadamu. Pssttt… ini rahasianya
si langit malam. Aku sudah meminta izin kepadanya dan dia membolehkan. Karena,
katanya, kau adalah teman terbaikku.
Tahukah Galang, semalam, langlam (langit malam) curhat kepadaku.
Katanya, sekali dalam setahun negaranya diserang teroris. Ada bom dimana-mana. Duarrr duarrrr
duuuarrrrr ledakan itu seperti berasal dari bawah tanahnya. Negaranya tak lagi
sepi seperti yang ditakdirkan Tuhannya. Padahal, tugasnya adalah menyediakan
ketentraman dan rasa tenang dengan warnanya yang hitam dan nuansanya yang
sunyi. Tapi satu malam dalam setahun itu adalah mimpi buruk baginya. Ia tidak
bisa menjalankan tugas yang diberikan Tuhan kepadanya. Ia mencoba minta bantuan
kepada Negara Hujan, tapi sepertinya teroris-teroris itu adalah pawang hujan
yang ulung. Hingga hujan pun tertahan di malam itu. Entah, padahal hari-hari
sebelumnya hujan begitu derasnya meluncur.
Bintang juga kehilangan romantismenya. Kerlap-kerlipnya tak langit
banyak dihitung orang-orang. Mereka terdengar menghitung yang lain. Hitungan
mundur, 10 hingga 1.
Dan bulan, entah dimana ia bersembunyi. Hilalnya pun tak nampak.
Harusnya orang-orang memperdebatkannya. Menegaskan bahwa ini belumlah menjadi
awal bulan baru.
Langit malam bersedih, Galang. Sayang ia tak punya akun facebook,
twitter, path, dan segala lainnya untuk bisa berkisah. Kitalah yang perlu
sedikit meluangkan waktu untuk memahaminya.
Dan tahukah Galang, kapan malam itu?
Binggo, kau benar! Semalam, saat kau dan kawan-kawanmu tengah melempar
sampah-sampah berwarna-warni itu ke negaranya. Sejak kapan kau-yang-anak-manis punya
niatan menjadi teroris?
Galang, jika kau punya waktu sebentaaaar saja, cobalah sapa langit
malam dalam sunyi. Malam apa saja, senin, selasa, rabu, kamis, dan seterusnya
tak jadi soal. Kau tak perlu mengkhususkan malam-malam tertentu untuk
menghidupkannya (apalagi jika kau hanya ikut-ikutan, Anak Manis ;)). Kau hanya
perlu menyapanya tanpa mengusik kewajiban dan kesenangannya. Dan sungguh, dia
benar-benar hidup.
Send?
Ini terlalu panjang untuk menjadi
sebuah pesan singkat. Akan kusalin ke kertas selembar, kulipat meyerupai
pesawat-pesawatan, dan kuterbangkan ke rumah Galang. Siapa suruh menjadi
tetanggaku. Kutebak, dia pasti tengah mengeluh karena pesannya yang belum
kubalas. Haha aku selalu punya defenisi kebahagiaan tersendiri jika membuatnya
menunggu.